bungkam seribu bahasa.
Mata saya menatap tak tentu arah.
Jari tak henti merusak.
Kaki selalu bergerak.
Memainkan laci meja yang sepertinya damai sebelum saya sentuh.
Saya mencoba mengalihkan pikiran dari suara yang tak ingin didengar.
Alunan kalimat yang saya coba untuk tolak.
Hah.
Tidak mungkin pikirku.
Tidak mungkin kata kata ini keluar dari bibirnya.
Sungguh hal yang tak disangka.
Bismillahirrahmanirahim.
I used to cry lately,
entah kenapa kejadian akhir2 ini bikin saya jadi gampang menangis.
Mulai dari keluarga, teman, bahkan film pun membuat saya jadi orang paling rapuh.
Sepertinya menjatuhkan air mata adalah hobi saya belakangan ini.
Layaknya orang yang berlomba, mengumpulkan tetesan demi tetesan hingga titik maksimalnya.
Saya tahu.
Saya sedang dicoba.
Yang Kuasa ingin tahu sampai dimana kesabaran saya.
Sampai dimana kekuatan iman saya.
Saya tahu.
Tapi apakah harus menggunakan media paling lemah dari hidup saya?
Sepertinya iya.
Bismillahirrahmanirahim.
Hanya kata ini bekal saya untuk terus maju.
Saya yakin bekal saya cukup.
Bismillahirrahmanirahim.
Mulai dari keluarga, teman, bahkan film pun membuat saya jadi orang paling rapuh.
Sepertinya menjatuhkan air mata adalah hobi saya belakangan ini.
Layaknya orang yang berlomba, mengumpulkan tetesan demi tetesan hingga titik maksimalnya.
Saya tahu.
Saya sedang dicoba.
Yang Kuasa ingin tahu sampai dimana kesabaran saya.
Sampai dimana kekuatan iman saya.
Saya tahu.
Tapi apakah harus menggunakan media paling lemah dari hidup saya?
Sepertinya iya.
Bismillahirrahmanirahim.
Hanya kata ini bekal saya untuk terus maju.
Saya yakin bekal saya cukup.
Bismillahirrahmanirahim.
Abonnieren
Posts (Atom)